Sondokoro: Keliling ladang tebu naik sepur uap

Filed under: OBYEK WISATA |

SONDOKORO1BANGUNAN kuno memang selalu menarik untuk dilihat. Apalagi jika kegiatan dalam bangunan itu masih hidup, bukan sekadar bangunan tua yang rongsok dan berlumut. Dan salah satu bangunan itu adalah Pabrik Gula Tasik Madu Karanganyar. Pemerintah setempat pun menyulap kawasan ini menjadi Agrowisata Sondokoro, sebuah konsep yang menawarkan wisata sejarah, alam, dan tentu saja hiburan modern.
Begitulah. Seperti tiba-tiba, Agrowisata Sondokoro menjadi primadona wisata. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati obyek sejarah berupa bangunan Pabrik Gula Tasik Madu yang didirikan KGPAA Mangkunegara IV. Lewat konsep ini, menurut Megantoro, manajer Argrowisata Sondokoro, pengunjung tak sekadar melihat bangunan fisik, tapi juga menyaksikan secara langsung proses pembuatan gula di pabrik. Jika beruntung, wisatawan bahkan bisa mengikuti ritual cembengan, yaitu sebuah ritual panen raya dan giling tebu pertama, yang biasa digelar pada bulan-bulan Mei-Oktober.
SONDOKORO2Yang menarik, di kawasan Sondokoro, wisatawan bisa keliling ladang tebu dengan naik kereta api atau sepur uap kuno. Ya, inilah saatnya merasakan romantisme masa lalu di kebun tebu. Sebab, dari atas kereta yang melaju pelan, wisatawan seperti diajak melihat dan merasakan kembali apa yang dilakukan pekerja-pekerja ladang kebun tebu puluhan tahun lalu.
Dari atas kereta, pengunjung bisa melihat langsung mesin-mesin penggilingan tebu yang sampai saat ini masih digunakan untuk memproses tebu menjadi gula. Kereta tebu ini buatan Jerman tahun 1920, dengan bahan bakarnya kayu. Berbeda dengan kereta kuno di Ambarawa, gerbong yang diangkut lokomotif hijau ini sengaja dibuat seperti layaknya kereta kelinci, sehingga wisatawan bisa menikmati secara langsung pemandangan di sekitar pabrik tebu Tasikmadu. Harga tiketnya pun hanya Rp 3.000 per orang. Sangat murah untuk bisa kembali ke masa lalu, saat sinder-sinder Belanda berkeliling kebun tebu dengan kudanya.
Paket wisata di spoor dibagi dalam dua paket, yakni Paket Spoor I yang menggunakan Spoor Teboe, sekali jalan mengangkut sekitar 70 orang, setiap orang membayar Rp 5.000 atau 350.000 per sekali jalan. Ada juga paket Spoor II dengan menggunakan Spoor Gula, dengan harga Rp 4.000 per orang. Harga paket pendidikan Rp 6.000-Rp 8.000 per orang, untuk berwisata ke kompleks PG Tasik Madu dan menyaksikan tayangan proses pembuatan gula.
Kawasan ini juga menawarkan wisata modern, mulai dari kolam renang dan water boom, jembatan gantung, flying fox, panjat tebing, taman air, dan dunia kreasi (arena bermain dan belajar anak-anak). Yang tak boleh ditinggalkan, tentu saja kuliner. Di Sondokoro, wisatawan bisa menikmati makanan khas ikan bakar Sondokoro di Griya Resto Sondokoro. (Ganug Nugroho Adi)

SONDOKORO3

SONDOKORO4

SONDOKORO5

Posted by on 31/07/2009. Filed under OBYEK WISATA. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

3 Responses to Sondokoro: Keliling ladang tebu naik sepur uap

  1. patokan cembengan tu berdasar hari mesehi, bulan jawa, atau hari jawa

    andry styo
    18/02/2010 at 09:44
    Reply

  2. to;omg di jawabya… aku butuh banget nie buat tambahan koleksi kebudayaan

    andry styo
    18/02/2010 at 09:48
    Reply

  3. Saya lahir di Semboro, tepatnya di kompleks perumahan PG Semboro Gunungsari Kencong th. 1966. Saya tinggal di Semboro-Kencong selama 25 tahun, karena ayah saya seorang Sinder Kebun.

    Sekarang kondisi kompleks PG. Semboro sangat memprihatinkan, banyak bangunan-bangunan tinggalan Belanda yg dulu disebut rumah Loji, kini tidak terawat dan bahkan roboh. Sungguh miris, tinggalan sejarah yg begitu cantik dan punya nilai artistik tinggi sekarang lapuk tak terurus.

    Seandainya jajaran direksi yang berasal dari kaum terpelajar dan pintar serta kuasa mengatur aset PG. Semboro itu tanggap, tentu kondisinya PG Semboro dan yang PG-PG yang lain tentu tidak se-memprihatinkan spt sekarang.

    Saya yakin, loji sebagai aset punya nilai jual wisata yang tinggi, tentunya juga harus didukung oleh fasilitas tempo dulu yang memadai untuk tujuan wisata, seperti Sepoor, Drekzyn, Per-per, dll.

    Semoga jajaran direksi dan Pemerintah yang pinter-pinter biosa mengelola aset Pabrik Gula dengan cerdas shg memiliki nilai jual agar aset tidak rusak percuma. kalau mereka yang pintar-pintar itu tidak mampu maka apa bedanya dengan orang-orang bodoh.

    Salam//

    Bagus

    BAGUS
    28/12/2010 at 15:51
    Reply

Tinggalkan Balasan